Sebagai salah satu mahasiswi yang sedang berjuang dengan penuh semangat dan haru untuk menamatkan semua ini, saya sadar jika saya cukup kuat untuk tetap menegakkan badan dan berdiri kokoh dengan semua kesulitan yang harus saya lalui demi sebuah gelar. Tak muluk-muluk saya berkuliah hanya demi kebahagiaan saya dikemudia hari dan juga senyum kedua orang tua saya. Ini cerita dan kisah bagaimana saya tetap bertahan hidup di dunia farmasi ini.
Diawali dengan hanya modal pasrah dan tidak tau mau kemana arah setelah ditolak beberapa kampus dengan jurusan yang sangat saya idamkan sedari saya masih duduk dibangku SMA, tibalah saya pada takdir ini. Perkuliahan semester pertama yang dilalui dengan berat dan dipenuhi teman yang cukup berambisi. Dengan tekad tidak ingin mengecewakan orang tua, saya tetap disini untuk menamatkan semua itu.
Hari demi hari yang saya lalui membuat saya mulai mencintai farmasi, ternyata tidak seburuk itu. Mencoba tetap bertahan dengan juga ikut organisasi dan ternyata saya cukup bisa membagi waktu antara rapat, tugas, laporan dan belajar. Mulai berambisi disemester 3 dan saya meyakini jika saya juga bisa bertahan hingga ditahap ini. Menyelesaikan studi DIII dengan tepat waktu membuat saya semakin berambisi untuk melanjutkan ke jenjang lebih tinggi, dikampus yang sama saya melanjutkan perkuliahan S1 farmasi dengan harapan supaya bisa melanjutkan ke profesi nantinya.
Cara lain saya untuk tetap bertahan difarmasi yaitu juga dengan menjadi asisten praktikum, menjadi seorang asisten mengharuskan saya juga ikut kembali belajar dan setidaknya itu menjadi bekal saya. Terkadang yang memang sudah ditakdirkan untuk kita menjadi lebih mudah untuk kita jalani bukan? Sampai saat ini saya masih mencoba untuk bagaimana tetap bertahan sampai akhir tanpa ada lagi tangisan ditengah perjalanannya.
Komentar
Posting Komentar